“PELUKAN
TERAKHIR”
Senja
kini menyapa buana, pijaran mentari
kuning keemasan di ufuk barat seakan melambaikan tangannya tanda
perpisahan dengan semua makhluk di bumi. Sepoian angin yang berhembus mesrah
menembusi sum-sum tulang menyebar ke seluruh raga ini. Desiran ombak pantai yang menerpa karang
tempat pijakanku senja itu membuatku semakin bingung dalam balutan perasaan yang tak menentu. Ku coba tuk membuang
kegalauan yang merasuki kalbu ini ke samudera raya yang membentang luas di hadapanku tapi aku tak kuasa. Kini tak ada lagi kata sesejuk embun ataupun
untaian kalimat bermakna yang membelai relung, pasrah pada nasib adalah
satu-satunya jalan. Setiap lelaki dalam hidupnya memiliki tiga agenda besar: ia
ingin sungguh terjun terlibat dalam
sebuah pertempuran, ia ingin membela si cantik, dan ia juga ingin bergerak hidup dalam sebuah petualangan. Telah tiga
tahun lamanya petualangan cintaku bersama Astra si gadis cantik asal Adonara itu
terjalin, namun kini rupanya ada cinta lain yang lebih kuat ketimbang cinta
Astra padaku. Haruskah aku melepaskan Astra sang cinta pertamaku? Kalaupun iya,
apa kata orang nanti? Padahal aku bukan cowok matre, aku pria sejati. Aku masih
saja berdiam diri di atas kerasnya karang, menyaksikan deburan ombak yang
menerpa karang pantai.
Aku
tak peduli pada waktu yang terus
bergulir. Dalam kesepian malam yang hanya ditemani desiran ombak dan belaian
angin malam, tiba-tiba kudengar suara yang tak asing di kupingku memecahkan
heningku : “ kakak sayang, kok kamu sendirian sih? Lagi galau ya sayang? Tadi
aku ke rumah mencari kakak tapi ade Ani bilang kakak kesini sendirian, makanya
aku nyusul” kata Astra penuh manja.
Kupalingkan wajahku ke arahnya, namun bibirku tak mampu berucap, jantung
berdegub kencang, rona wajahku kian berubah, aku tak tahu harus bagaimana, aku
takut untuk mengatakan yang sebenarnya.
“ Astra, jangan marah bila ku harus menyimpan rahasia hubungan kita ini
untuk sementara waktu” desahku dalam hati. Kupandangi wajahnya yang penuh
dengan kepolosan cinta, wajah cantik nan anggun. Luluh hatiku karena tak kuasa
melihat ia sedih jika aku harus mengatakan tentang hal ini. Jujur harus ku akui
cinta tak selamanya harus memiliki, kisah cinta tiap insan sering berjalan beda
arah. “Kak ada apa sebenarnya? Ceritakan padaku, siapa tahu ada yang bisa
dibantu. Jangan pernah khawatir selagi aku masih di sisimu sayang” bujuk Astra padaku.
Untaian kata yang terucap dari bibirnya
membangkitkanku dari ketakberdayaan.
Dalam keremangan cahaya bintang yang bertaburan di langit kutatap
lekat-lekat kedua bola matanya yang indah penyimpan sejuta cahaya cinta.
Kumerasakan ada kekuatan didalam jiwaku, membangkitkan kehidupan dan cahaya di
hatiku, mengirimkan perasaan baru untuk mencintai kesucian jiwa. Baru kali ini
kumerasakan sebuah sentuhan aneh yang membuat kalbuku bagai sekuntum bunga
putih menghirup titik-titik embun pagi dan menyebarkan kesemerbakannya. Kuteliti setiap bilik-bilik dadanya yang dipenuhi dengan simfoni cinta. Tak ada
yang lebih baik dari kasih sayang yang tersembunyi dihati, disaat sadar tapi
lengah, ia memiliki keistimewaan yang lebih daripada wanita-wanita lain dalam
hal kekuatan rasa kasihnya dan kelembutan perasaan. Inilah yang membuatku sangsi
untuk memilih diantara dua jalan yang
amat diferensiatif.
Aku berusaha menafsir hasrat jiwanya
dan menyibukkannya untuk menyimak rahasia-rahasia cintanya. Ia seumpama oase
yang memancar dari perut bumi, menyegarkan dahagaku. Ia tidak mendapatkan
aliran air yang tenang, permukaannya membiaskan cahaya rembulan dan
kerlap-kerlip bintang yang senantiasa menyinari jiwaku dari kegelapan. Aku begitu merasakan getaran cintanya
meliuk-liuk disekitar jiwaku. Jiwa yang sudah terpaut mengerti dan mengetahui
perasaan ini akan segera buyar bagaikan kabut yang disapu hari-hari putih.
Kubertanya dalam hati kecilku “ Jalan seperti inikah yang memeluk dan menderaku
disuatu hari nanti? Jalan inikah yang DIA berikan padaku untuk menjelajahinya?
Tapi kenapa ada jalan lain yang membuatku bimbang tuk melangkah? Haruskah aku menutup
mata dan memalingkan wajahku dari wajah gadis manis yang ada di depan mata ini?”
problema cinta memang sungguh dilema.
Astra menatap lekat-lekat wajahku seakan ia sedang membaca mimpi-mimpi lewat
rona wajahku, ia seakan mendengarkan gema pikiran yang keluar dari dadaku. Kami
berdua terdiam dalam kebisuan malam.
Kupandangi wajahnya, dan ketika mata kami berpapasan, aku menarik nafas panjang nan
berat lalu mengalihkan pandanganku sambil memejamkan mata, seolah jiwaku telah
terhempas dari raga ini lalu berenang keruang-ruang tak bertepi berusaha
mencari kata-kata yang cocok untuk diungkapkan.
Sebagai lelaki aku tak boleh begini sebenarnya. Dengan suara mendenting
nada-nada yang ganjil, aku pun bergumam, “ Astra, ketika pertama kali aku
mengungkapkan isi hatiku dihadapanmu, dalam benakku serasa ada sebuah kekuatan
magis yang melingkupi kalbuku dan bergelantungan pada jiwaku, kekuatan agung
yang membuatku lupa akan pedihnya masa laluku. Dalam kalbuku serasa ada
sekuntum bunga yang mekar mewangi memenuhi rongga hatiku. Disetiap tidur dan
mimpi-mimpiku selalu terngiang namamu, saat itu kumerasakan ada sebuah kekuatan
cinta yang menggema dalam sanubariku, cahaya dihatiku berpijar-pijar laksana
bintang yang berhamburan di cakrawala. Tapi…………. Semua kekuatan magis nan suci
itu kini seakan telah sirna dihalau oleh suatu kekuatan cinta yang asalnya dari
DIA sang pemilik cinta itu sendiri.” Astra tertunduk lesuh seolah ia mengerti
apa arti dan maksud ucapanku. Kegentingan kian menyelimuti hati yang kini sedang
dirundung duka karena problema cinta.
Dengan wajah yang merah merona disertai linangan air mata disetiap sudut
matanya Astra pun berucap padaku, “sayang,
aku tak mau jauh dari sisimu. Jujur kuakui, kakak adalah sosok pria tampan dan
lelaki terbaik yang pernah dan pertama kali hadir dalam hidupku. Ku
ingin ada bersama kakak sayang hingga ajal menjemputku kelak. Tapi…… kalau
kakak menginginkan yang lain aku rela, cinta tak selamanya harus memiliki”. Jiwanya seakan menggelepar, lalu ia bergumam
lagi dengan nada sendu “ mengapa kakak tega meninggalkan aku? Bukankah kakak
telah menaruh janji padaku untuk sehidup semati? Aku sudah berusaha samampuku
untuk menjaga mahligai cinta kita yang sudah lama terjalin namun kini semuanya
sirna . Mungkinkah aku adalah sosok wanita yang tidak layak dihadapan kakak?
Kalau memang jawabannya itu, astra minta dimaafkan”. Aku tak tahu harus bagaimana, bibirku tak
mampu lagi merangkai kata menjadi kalimat, menatap wajahnya aku tak sanggup.
Inikah sisi buruk dari petualangan cintaku?.
Kupeluk tubuhnya dan mendekapkan kepalanya di pundakku lalu
mengecup keningnya serta berkata “ Astra, mungkin bukan takdirnya kita berdua
hidup bersama, jalan hidup kita memang berbeda, kumohon engkau mengerti ini, sebenarnya………Bukan
maksudku untuk menyakiti perasaanmu, tapi……inilah takdir kisah cinta kita. Ku
yakin engkau pasti mendukungku, doakan aku sayang karena besok saya harus ke
biara di seminari tinggi, ini jalan hidup yang kupilih Astra. Maafkan aku
sayang, kalau aku tak mampu bersamamu untuk selamanya”. Astra hanya menangisi nasibnya yang malang karena tragedi kisah cinta ini.
Dibawah keremangan cahaya rembulan
dan bintang yang menghiasi cakrawala yang dipadukan dengan desiran ombak pantai,
Astra membiarkan aku memeluk tubuhnya
kuat-kuat dan ini adalah pelukan terakhirku pada Astra. Kukecup keningnya
sekali lagi untuk yang terakhir kalinya sebagai tanda pisah petualangan cinta
kami berdua. Karanglah saksi bisu kisah akhir asmara antara aku dan Astra. Berbarengan
dengan itu Astra pun berkata untuk yang terakhir kalinya padaku dalam nuansa
asmara“ kalau itu yang sayang mau, aku dukung walau harus meninggalkan goresan
luka dalam yang teramat perih bagi diriku. Sayang, jadilah yang terbaik, ku
selalu ada untukmu meski jalan kita beda arah dan terbentang oleh jarak yang
jauh. Frater sayang, ini kenangan terakhirku buatmu, “ muuuuacch” astra
merapatkan bibirnya yang sensual ke pipiku sambil mengeluarkan kalung emasnya yang
selama ini menghiasi lehernya dan memasang pada leherku sebagai tanda mata berakhirnya
kisah asmara kami. Memang benar adanya bahwa cinta tak selamnya harus memiliki. Waktu terus bergulir, kini
aku telah memulai hidup baruku dalam cinta-Nya yang memangilku, karena kekuatan
cintanya yang tak mampu kuhadang aku pun memilih melepaskan astra sang pujaan
hatiku, walau harus meninggalkan sejuta kenangan pahit nan perih pada diri
astra. Karena dia adalah asal segala cinta, good bye astra…***
***** THE END *****
Komentar
Posting Komentar