Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2017
“ PELUKAN TERAKHIR ” Senja kini menyapa buana, pijaran mentari   kuning keemasan di ufuk barat seakan melambaikan tangannya tanda perpisahan dengan semua makhluk di bumi. Sepoian angin yang berhembus mesrah menembusi sum-sum tulang menyebar ke seluruh raga ini.   Desiran ombak pantai yang menerpa karang tempat pijakanku senja itu membuatku semakin bingung dalam balutan perasaan   yang tak menentu. Ku coba tuk membuang kegalauan yang merasuki kalbu ini ke samudera raya yang membentang luas   di hadapanku tapi aku tak kuasa.   Kini tak ada lagi kata sesejuk embun ataupun untaian kalimat bermakna yang membelai relung, pasrah pada nasib adalah satu-satunya jalan. Setiap lelaki dalam hidupnya memiliki tiga agenda besar: ia ingin   sungguh terjun terlibat dalam sebuah pertempuran, ia ingin membela si cantik, dan ia juga ingin bergerak   hidup dalam sebuah petualangan. Telah tiga tahun lamanya petualangan cintaku bersama Astra si gadis cantik asal A...
KAMI ANAK SIAPA ???? Debu ramai menari   di alam Mata pudar Tangan gemetar Nurani terlanda kabut Punggung sarat caci maki             Di ujung sana             Lolongan anjing terdengar jelas             Di tebing-tebing terjal             Hati menari sisa sepi             Menghibur nurani Air mataku enggan tergugah Aku hanya menulis tanya sajak Bagi para penguasa peradaban Kami anak siapa? Mungkin anak haram semesta!!!             Ku berkisah dalam rima             Mungkin tak beraturan             Untuk meng...
AKU DAN RINTIKAN HUJAN Awan hitam kembali menguasai langit kota Malang. Jarum jam di sore itu tepat berada diangka empat. Masih dalam kesibukan, aku seolah-olah tak menghiraukan cuaca disore hari. Bermain game, menonton film di laptop itulah kesibukan yang sengaja aku ciptakan didalam kamar kontrakanku kala dalam kesendirian. Deru guntur beserta sambaran kilat kian terus mengguncang alam jagat raya. Bila dibayangkan bagaikan serangan udara tentara Belanda tempo itu. Aku tak tahu harus menciptakan kesibukan apalagi selain yang telah aku ciptakan. Ku terus berpikir dan berpikir. Otakku terus berputar tak ada capeknya. Tiba-tiba terdengar tetesan air mengenai atap kontrakanku. Aku kembali sadar, ternyata guntur dan kilat adalah jelmaan dari alarm alam. Dengan cekat, aku   berlari kecil menuju tempat jemuran. Syukur hujannya belum seberapa. Sehingga pakaianku selamat, gumamku dalam hati. Masih dalam kesendirian. Aku berlangkah menuju pintu depan kontrakan. Berlahan ku menatap,...