AKU
DAN RINTIKAN HUJAN
Awan
hitam kembali menguasai langit kota Malang. Jarum jam di sore itu tepat berada
diangka empat. Masih dalam kesibukan, aku seolah-olah tak menghiraukan cuaca
disore hari. Bermain game, menonton film di laptop itulah kesibukan yang
sengaja aku ciptakan didalam kamar kontrakanku kala dalam kesendirian. Deru
guntur beserta sambaran kilat kian terus mengguncang alam jagat raya. Bila
dibayangkan bagaikan serangan udara tentara Belanda tempo itu. Aku tak tahu
harus menciptakan kesibukan apalagi selain yang telah aku ciptakan. Ku terus
berpikir dan berpikir. Otakku terus berputar tak ada capeknya. Tiba-tiba
terdengar tetesan air mengenai atap kontrakanku. Aku kembali sadar, ternyata
guntur dan kilat adalah jelmaan dari alarm alam. Dengan cekat, aku berlari kecil menuju tempat jemuran. Syukur
hujannya belum seberapa. Sehingga pakaianku selamat, gumamku dalam hati.
Masih
dalam kesendirian. Aku berlangkah menuju pintu depan kontrakan. Berlahan ku
menatap, betapa gelapnya cakrawala disore itu. Hujan terus mengguyuri kota
tempatku mengais ilmu. Bulu romaku berdiri. Bunyi guntur masih terus
menggelegar di cakrawala. Seakan ingin merobek sudut-sudut cakrawala yang
membentang menghiasi alam raya. Memoriku tiba-tiba berputar kembali. Mengenang kisahku.
Kisah yang terlukis bersamanya diwaktu itu. Semuanya itu aku yang salah. Aku
tahu. Aku paham. Tapi dia tak mau mendengarkan penjelasanku. Kisah yang terlukis
dibawah rintikan hujan akhirnya pergi seiring senja berlalu.
“Enjel,,ada
yang ingin aku bicarakan padamu”. Aku memberanikan diri untuk memulai
percakapan. Memang ada rasa gugup yang menghantui kalbuku. Namun ku berusaha
untuk melenyapkan.
“Apa
yang ingin kamu bicarakan kawan, memangnya sedari tadi kita tak bicara sepatah
katapun?” Jawaban Enjel seakan membuatku kembali mengurung niatku untuk
melanjutkan pembicaraanku. kutahu cara penyampaianku salah. Memang Enjel
terkenal dengan pribadi yang ego, jutek, sok kritis. Tetapi seharusnya Enjel
mendengarkan terlebih dahulu. Mungkin ia tak suka dengan caraku. Aku mungkin
harus mempelajari ulang metode percakapan. Terutama saat berhadapan dengan
Enjel. Tapi tidak untuk saat ini. Aku harus tetap gunakan metode lamaku.
“Aku
tahu itu Enjel. Tapi ada yang ingin kubicarakan padamu. Penting”. Aku berusaha
meneranginya. Enjel menjadi paham dengan maksudku. Aku bersama Enjel terus
berlangkah menerobosi rintikan hujan yang berusaha menghalangi langkah kami.
Tanpa payung yang melindungi tubuh kami berdua dari tetesan hujan. Tetesan
hujan berlahan menepuk-nepuk seluruh tubuh kami lalu kuyup bersama. Aku dan Enjel tak peduli. Kami berdua terus
berlangkah. Enjel masih membisu. Mungkin ia takut atau mungkin sengaja dibuatnya
agar aku penasaran.
“Enjel,
kenapa kamu diam begitu? Bicaralah.”
“Sebenarnya
apa yang ingin kamu sampaikan, kawan”. Suara Enjel kembali membuatku sadar kalau
masih ada kehidupan dalam dirinya. Sekarang menjadi giliranku yang diam. Aku
ragu dengan apa yang ingin aku sampaikan. Ku berusaha menenangkan pikiranku.
Inilah puncak dari perjuanganku. Tak bisa aku melepaskan begitu saja kesempatan
ini. Aliran darah dalam tubuhku menjadi tak karuan. Jantung berdetak cepat.
Berlahan ku memperlambat lajuku langkahku. Aku berhenti sejenak di sudut gang.
Air muka Enjel tampak kebingungan melihatku.
“Kok,,jadinya
kita berhenti disini?” tanya Enjel dalam kebingungannya. “Ayo kita lanjutkan
lagi perjalanan. Nanti teman-teman kita nunggunya lama. Tidak enak sama
mereka.” Aku tak peduli dengan omongan Enjel. Aku terus berdiri disudut gang
itu. Ku ingin melihat reaksi Enjel selanjutnya. Akhirnya ia pun mau berhenti
bersamaku. Ku menatap wajahnya yang masih polos. Seperti belum dibelai oleh
siapapun selain kedua orang tuanya. Ku semakin yakin dengan niatku ini. Sorotan
mata tajamku membuat Enjel salah tingkah. Ia gemetar. Mungkin karena kedinginan
atau karena sorotan mataku. Aku tak tahu. Raut wajahnya yang manis beserta bola
matanya yang indah membuatku terkapar. Aku tahu yang tercipta adalah yang
terindah. Sungguh yang berada didepanku saat ini sangatlah indah. Mungkin sulit
tuk aku defenisikan bila ada pertanyaan siapakah dia? Aku yakin sosok inilah
yang dikirim Tuhan untuk mendampingi aku. Tapi itu hanyalah keyakinan butaku saja.
Sering khalayak ramai mengatakan cinta itu hadir pada saat pandangan pertama.
Aku tahu itu. Tapi bagiku keyakinan jangan terlebih dahulu diletakan pada
pandangan pertama. Karena akan berujung pada penyesalan. Enjel tak mampu lagi
menatapku.
“Ada
apa kawan. Kok kamu melihat aku seperti itu?” tanya Enjel sambil menatap aku. Aku
balik menatapnya seakan lapar akan cinta dari sosok sepertinya. Sebelum aku
melangkah lagi ku ingin meninggalkan jejak-jejak
cinta dalam pelataran kalbunya. Suasana di sore itu semakin indah bersama munculnya
pelangi yang menghiasi jagat dari ufuk barat tempat sang mentari menghentikan
petualang di buana ini. Sorotan mataku semakin tajam seiring keberanianku tuk
mengungkapkan perasaan ini. Ia tertegun. Tak mampu membalas tatapan mataku.
“Enjel,,ku
tahu dengan keluguanmu itu engkau tak mampu membaca maksudku. Ku tahu kusalah
bila menyampaikan hal ini karena selama ini
kita berteman sudah begitu akrab. Layaknya sebagai sahabat. Awalnya aku
ragu tuk sampaikan hal ini. Tapi tak bisa ku menyimpannya terlalu lama. Aku
takut semuanya berubah. Enjel...........” Aku sengaja tak melanjutkan lagi
pembicaraanku. Kuingin melihat reaksinya. Ia tampaknya masih dalam kebingungan.
Ia semakin bingung kala aku menjeda pembicaraanku lama.
“Lanjut
dong,,,,,,,,” sergahnya. Rupanya ia penasaran. Akhirnya ku tahu ini pertanda
baik buatku. Senyumannya membuatku semakin berani tuk mengatakannya. Artinya sudah
ada lampu hijau dalam langkah ini.
“Jujur
Enjel,,,awalnya aku berpikir mungkin perasaan ini hanya karena kita berteman
akrab. Namun ku berusaha menelusurinya. Akhirnya ku temui jawabannya kalau
perasaanku bukan sekedar itu saja. Ada yang perasaanku yang lebih khusus lagi.
Aku sadar aku tak punya apa-apa untukmu. Tapi hanya satu yang kumiliki untukmu.
Itu adalah perasaan itu sendiri. Aku ingin kamu pahami itu. Aku cinta kamu
Enjel. Melebihi perasaan semasa kitaa berteman.” Enjel tersentak kaget
mendengar ucapanku. Ia seakan tak percaya dengan peristiwa sore itu. Butir-butir
hujan kecil masih terus turun membasahi bumi. Aku tak peduli. Kendati wajahku
sudah basah kuyup.
“Riky,,,kamu
tak lagi bercanda kan?” tanya Enjel sekan tak percaya dengan apa yang terjadi
di sore itu. Wajahnya merah merona. Entah antara bahagia, takut atau malu.
“Tak
ada untungnya Enjel, bila aku bercanda dibawah rintikan hujan seperti ini. Aku serius dengan perasaanku.” Tanpa kuketahui
air mata enjel jatuh membasahi kedua pipinya. Untung dengan adanya rintikan
hujan tak tampak bila ia menangis. Aku tahu ketika mendengar isaknya. Tanpa
kuduga ia langsung memelukku. Aku bingung. Tak percaya. Pelukannya begitu erat.
Akupun langsung membalas memeluknya dalam kebingungan. Tak ada jawaban ya atau
tidak. Yang ada hanyalah pelukan. Terdengar suara kecil dibalik pelukan itu.
“Aku juga sayang sama kamu. Sudah lama ku nantikan kata itu dari mulutmu”.
Ucapan manis itu mampu menyentuh batinku. Akupun tahu, karena keegoanku selama
ini sampai aku tak sadar ada sesuatu yang menantiku. Dan sesuatu itu sudah
terjawab. Mungkin selama ini Engel ingin memulai terlebih dahulu, tapi ia malu,
gengsi. Apa kata orang bila perempuan terlebih dahulu mencari laki-laki.
Kendatipun itu hal yang wajar, namun realita tak pernah menyandingkan cerita
seperti itu. Kini hatiku melonjak girang mendengar ucapan Engel. Aku mengerti
bila pelukkan itu menandakan kalau ia tak ingin aku pergi jauh darinya.
Masih
dalam kesendirian. Tiba-tiba seseorang menepuk bahuku. Khayalanku terhenti.
Bayangan itu lenyap seketika. Kuberusaha menelusuri lagi, membuka kembali
memori yang barusan terlewati, tapi usahaku sia-sia. Hanyalah cerita lain tempo itu yang hadir dalam memoriku. Mungkin
cerita tentang aku dan dia sudah tertimbun kembali dialam bawah sadarku yang
sulit tuk dijangkau. Tapi aku bahagia. Rintikan hujan sore itu mampu membawaku
kembali mengenang masa indah antara aku dan dia. Kini ia telah pergi. Semenjak orang
tuanya mengirimnya tuk mengenyam pendidikan di negeri ratu Elizabeth aku
kehilangan kontak dengannya. Masih ku ingat, hanya sekali saja dia menelponku.
Tepat ditanggal 14 February. Ia
menceritakan pertama kali ia bermain salju di negeri ratu Elizabeth serta hidup
dengan suasana penuh cinta bersama teman-teman barunya. Diakhir pembicaraan itu
Engel sempat mengatakan padaku “jangan pernah menghilangkan cinta yang barusan
kita rajut kendatipun aku tak memberi kabar lagi untukmu. Tiga tahun lagi aku akan
kembali tuk membangun bahtera yang kita impikan bersama. Te amo”. Kata yang berasal dari Italia itu menjadi penguat bagiku.
Kini kuyakin cinta yang telah mengakar takkan mampu dicabut oleh siapapun.
Kendati ia pergi, tapi dalam waktu yang tak diduga ia akan kembali tuk bersemai
dalam pemilik cinta yang sebenarnya. Aku terus menatap rintikan hujan disore
itu hingga berhenti kendati dalam tatapan kosong akan bayangan wajahnya.
********** THE END **********
Komentar
Posting Komentar