NERAKAKU
Nerakaku
|
S
|
emilir angin berhembus mesra, rerumputan
kerdil bergoyang ria kian kemari ditengah padang belantara dipadukan bunyi
jangkrik yang tidak berirama membuat suasana semakin menyeramkan sehingga
mengundang bulu kudukku tuk bangkit berdiri merasaka getaran alam yang maha
dasyat ini. Kicauan burung samar dan gemuruh angin menambah pesona alam
dipadang belantara dan nun jauh disana, diufuk barat sang surya mulai beranjak
pergi menuju ke peraduannya. Suasana alam senja itu sungguh eksotis, membuat
semua mata penghuni padang belantara terpukau memandangnya.sungguh inilah karya tuhan yang
sangat mengagumkan. Aku pun tak mau kalah, ku ambil suling dari dalam “ kaleku”ku yang tua dan kusam tak terawat
sembari menarik nafas dan mulai melantunkan lagu kesayangan ku. Suling mungilku
mendendangkan lagu “kuku manu”
menyemaraki suasana nan indah disenja itu.Keletihan yang melilit tubuh
ini karena aktifitasku yang melelahkan sepanjang hari membuat aku semakin tak
berdaya lagi pula perutku mulai
keroncongan dan aku pun harus kembali. Bak dictator aku melayang kan rotan ke
atas bokong kerbau, derap langkah kawanan kerbau yang berlari di sepanjang
jalan laksana prajuruit yang sedang bertempur, dengan langkah tertatih-tatih
aku berlari bersama kawanan kerbau tersebut menuju rumah sederhanaku diujung
“wanokaladha”.. Nuansa kampung yang kental mewarnai hari-hari hidupku karena
aku adalah anak kampung dan di kampunglah aku dilahirkan dan dibesarkan.setiap
sore sepulang menggembalakan kawanan kerbau di padang belantara yang jauh dari
keramaian zamanku, aku selalu menyempatkan diri tuk mampir di pelataran rumah
raja tuk melaporkan keadaan kerbau pada hari itu dan sembari menantikan uluran
tangan dari sang raja agar beliau memberikan aku upah atas kerjaku hari itu dan
ini telah menjadi kebiasaanku sejak aku dijadikan budak sejak lima tahun
silam.upah tersebut hanya cukup untuk sekalli makan saja, jadi untuk menyambung
nafas hidupku maka mau tak mau aku harus melakoni semuanya itu, yang penting
halal bagi diri ini. aku adalah insan zaman edan ini namun aku bagaikan debu
yang berhembus diatara reruntuhan dunia, bergolak diantara puing waktu yang
tercecer tak menentu.
Gemuruh angin musim
dingin merindingkan sukmaku. Hari-hari hidupku terasa hambar tak bermakna,
waktu seakan tak mau cepat beranjak,
membuat hari terasa lama berganti. Hasrat dan anganku kian bergejolak dan
seakan memberontak dalam raga hina ini
menatap masa depanku yang suram tak menentu. Ingin aku lari dari kenyataan
pahit ini dan berteriak sekuat tenagaku, namun sayang aku bukanlah seorang ata
du’a yang tidak bermoral……..aku masih waras. Aku makhluk merdeka yang sadar
akan eksistensi diriku sendiri. Aku insan zaman ini yang haus akan pendidikan
yang tehimpit dalam jurang adat istiadat, aku adalah korban hutang piutang dari
ayahku dengan sang raja. Bagiku pendidikan adalah gerbang kebenaran,
gerbang kemerdekaan dan masih banyak gelar lain lagi yang pernah ku dengar
dari seseorang. Tapi kepada siapa aku
harus mengadu?? Aku hanyalah seorang budak penggembala kawanan kerbau sang raja
di kampungku. Seluruh hidupku diabdikan untuknya, sungguh peleyananku padanya
tulus adanya. Namun apa yang kudapat
darinya? Perhatian, kasih sayang, upah yang baik ataupun kebaikan
lainnya……..? tidak…. Semuanya bertolak
belakang dengan apa yang kuharapkan, malah yang kudapat darinya adalah caci
maki dan hujatan sadis. Porsi makanku
tidak pernah bertambah, ruang gerakku sempit, mulutku dibungkam dan semua yang
kulakukan adalah salah dimatanya, sungguh tragis! Akulah korban kekejaman dari
para penguasa zaman ini. Dalam heningku aku sering bergumam “ mungkinkah suatu saat nanti akan ada insan
yang mampu membebaskan aku dari terali
kekejamman serta jeruji penderitaanku ini? Atau siapakah yang mampu dan mau
mendengar rintihan hati ini ?”.pernah suatu kali aku menangis dalam kamarku dan
dalam hati aku berkata “ mengapa aku
dilahirkan dan dihadapkan pada kenyataan sepahit ini? inikah cobaan dari yang Maha kuasa? apakah
Tuhan benci pada diriku? Apa salah dan dosaku ya Tuhan?” Dan masih banyak rentetan pertanyaan lainnya
yang mengusik hati ini. Tapi bagaimanapun juga aku sadar bahwa diriku hanyalah
debu diantara reruntuhan ping-puing
dunia, aku adalah makhluk korban perdagangan dan korban hutang piutang. Karena
dulu ayah ku pernah meminjam kerbau dan sejumlah uang dari raja untuk biaya
operasi Caesar ibuku ada waktu melahirkan aku karena aku adalah bayi premetur
dan setelah melahirkanku ibu pun pergi tuk selamanya,,,,,,,,,,, ayah tak mampu
membayar semua hutangnya, lagipula lima tahun setelah ibu meninggal ayah pun menyusul kekesih hatinya ke alam
baka, maka akulah jaminan atas utang tersebut,.
Malam merentangkan
keheningan, melelapkan semua insan dalam selimut mimpi. Seandainya semua hari
adalah malam, bisa jadi manusia akan terlelap dalam mimpi sehingga lupa akan
bentangan masa depannya. karena didalam malam dimana gelap gulita menyelimuti
jagad, berjuta mimpi akan berhamburan dalam buaian fatamorgana yang terus
melelapkan manusia. Untung saja fakta
tak berkata demikian, semuanya adalah pertautan antara siang dan malam,
diantaranya manusia dapat brmimpi dan mewujudkan mimpinya, sehingga membuat
hari menjadi lebih indah dan bermakna untuk dijalani oleh setiap manusia. Aku
adalah makhluk merdeka, empunya harapan dan harapan diri ini. Aku adalah
generasi penerus bangsa , namun sayang, aku terjerat dalam jeruji kekejaman
zamanku yang tidak bersahabat. Tapi harapan dan cita-citaku tak kunjung pupus
menatap masa depanku kerana semuanya ada dalam kendali ku, walau aral datang
silih berganti. Aku terus berjuang dalam kejaran hri yang terus menguntit
bersama sejuta harapan.
******
Disuatu sore yang cerah
ketika baru saja pulang menggembalakan kerbau di padang belantara, aku
meyakinkan diri ini untuk pergi menghadap raja dan menyampaikan niat baikku
yang telah lama bersemi dalam diri ini. Aku pergi memohon kepadanya supaya aku diberi kesempatan untuk bisa
mengenyam pendidikan dasar di desaku kerna umurku masih belia. Bersama sejuta
harapan aku melangkah dengan pasti menuju singgasana sang raja tuk mengutarakan
aspirasiku. Namun apa yang terjadi? Apa yang kutakutkan sebelum pergi
menghadapnya kini benar-benar menjadi kenyataan, kenyataan pahit kini sedang
dalam dekapanku. Sugguh menyakitkan.
“ apa kau bilang?
Sekolah?” kata raja sambil tertawa sinis.
“ ya raja, aku ingin sekolah, aku butuh itu.” Plak…..plak… tangannya yang bengis melayang
diatas kedua pipi imutku. Dan denga geram ia berkata “ diam kau….. binatang…..
pergi sana” kau hanyalah seorang budak, sekolah bukan bidangmu dan itu tidak
penting sama sekali buatmu ……..dasar binatang“.
Tak ada kata lain bagimu : kau
harus tetap memggembalakan kawanan kerbauku, jika tidak akan ku penggal
kepalamu.”
Aku hanya terunduk
lesuh, diam tak bergumam dihadapannya. Dan bagai disambar petir, telapak kaki
meus anak sang raja yang biadab itu melayang diatas pundakku, akupun jatuh
tersungkur di bawah kaki raja dan dengan secepat kilat raja menginjakkan
kakinya keatas batang leherku…….di mata mereka aku adalah pengkhianat karena
aku melawan titah sang raja. Ingin
kuakhiri nafas ku di singgasana ini tapi ini bukan tempatku aku tak
layak di tempat ini. Dengan amarahnya
yang berkobar-kobar putra raja tersebut
menghunuskan pedang pusaka kerajaan milik ayahnya ke dalam lambungku,,,,”owh”
aku berdesah saat pedang pusaka itu merobek lambungku, perih hatiku bagai
disayat sembilu. Seketika pula mataku tebelalak dan jantungku pun tak mau
berdetak lagi, aku telah pergi menyusul ayah dan ibu di alam baka . harapanku
pupus , semua mimpiku terus terkubur dan akan tetap terkubur. Mimpi tetaplah
mimpi karena hidupku adalah malam kelam
yang berselimutkan kegelapan yang menghamburkan mimpi pada diri ini namun sayang , fajar baru tak pernah
menyingsing sehingga menghadirkan sejuta kenangan pahit sepanjang hayat hingga
ajal datang menjemputku. Perih,,,,, pedih hatiku ini,tak ada yang mau mendengar
rintihan hatiku, karena aku hanyalah seorang budak dan akan tetap menjadi
budak. Budak adalah gelar yang ku sandang sejak
lima tahun silam, gelar yang merenggangkan aku, hasrat dan masa depanku,
gelar nestapa lambang derita.
Komentar
Posting Komentar